Movie, SSH, Software

PASANG DISINI

IKLAN BY PONDOK MERANA

Makalah Praktik Keperawatan


BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL
Praktik Keperawatan Profesional adalah tindakan mandiri perawat profesional melalui kerjasama bersifat kolaborasi dengan pasien atau klien dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawab. (Nurse, Ferry. 2012.”Pratik Perawat Profesional”. http://askep-net.blogspot.com/2012/08/praktik-keperawatan-profesional.html . 28 Oktober 2012)
            Praktik keperawatan ditentukan dalam standar organisasi profesi dan system pengaturan serta pengendaliannya melalui perundang – undangan keperawatan (Nursing Act), dimanapun perawat itu bekerja (PPNI, 2000). Keperawatan hubungannya sangat banyak keterlibatan dengan segmen manusia dan kemanusiaan, oleh karena berbagai masalah kesehatan actual dan potensial. Keperawatan memandang manusia secara utuh dan unik sehingga praktik keperawatan membutuhkan penerapan ilmu Pengetahuan dan keterampilan yang kompleks sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan objektif pasien/klien. Keunikan hubungan perawat dan klien harus dipelihara interaksi dinamikanya dan kontuinitasnya. Penerimaan dan pengakuan keperawatan sebagai pelayanan professional diberikan dengan perawat professional sejak tahun 1983, maka upaya perwujudannya bukanlah hal mudah di Indonesia. Disisi lain keperawatan di Indonesia menghadapi tuntutan dan kebutuhan eksternal dan internal yang kesemuanya membutuhkan upaya yang sungguh – sungguh dan nyata keterlibatan berbagai pihak yang terkait dan berkepentingan.

B.     FALSAFAH PRAKTIK KEPERAWATAN
Falsafah Keperawatan adalah dasar pemikiran yang harus dimiliki perawat sebagai kerangka dalam berfikir, pengambilan keputusan dan bertindak yang diberikan pada klien dalam rentang sehat sakit, yang memandang manusia sebagai makhluk yang holistic, yang harus dipenuhi dalam hal kebutuhan biologi, psikologi, sosial, kultural dan spiritual melalui upaya asuhan keperawatan yang komprehensif, sistematis, logis, dengan memperhatikan aspek kemanusiaan bahwa setiap klien berhak mendapatkan perawatan tanpa membedakan suku, agama, status sosial dan ekonomi.
Adapun pengertian falsafah keperawatan menurut beberapa pakar keperawatan adalah sebagai berikut :
  1. Falsafah Keperawatan menurut Florence Nightingale (Modern nursing) yaitu melihat penyakit sebagai proses pergantian atau perbaikan reparative proses. Manipulasi dari lingkungan eskternal perbaikan dapat membantu proses perbaikan atau pergantian dan kesehatan klien.
  2. Falsafah Keperawatan menurut Martha Rogers, 1970 yaitu bahwa keperawatan adalah pengetahuan yang ditujukan untuk mengurangi kecemasan terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan , pencegahan penyakit, perawatan rehabilitasi penderita sakit serta penyandang cacat.
  3. Falsafah Keperawatan menurut Roy (Mc Quiston, 1995) yaitu bahwa keperawatan memandang manusia sebagai makhluk biopsikososial yang merupakan dasar bagi kehidupan yang baik dan juga merupakan disiplin ilmu yang berorientasi kepada praktik keperawatan berdasarkan ilmu keperawatan yang ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada klien / pasien.
  4. Falsafah Keperawatan menurut Jean Watson (Caring).Caring adalah suatu ilmu pengetahuan yang mencakup suatu hal berperikemanusiaan, orientasi ilmu pengetahuan manusia ke proses kepedulian pada manusia, peristiwa, dan pengalaman. Ilmu pengetahuan caring meliputi seni dan umat manusia seperti halnya ilmu pengetahuan.Perilaku caring meliputi mendengarkan penuh perhatian, penghiburan, kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, menyediakan informasi sehingga pasien dapat membuat suatu keputusan
  5. Falsafah Keperawatan menurut Betty Neuman.Newman menggunakan pendekatan manusia utuh dengan memasukkan konsep holistik, pendekatan sistem terbuka dan konsep stresor.

C.    HALKIKAT PRAKTIK KEPERAWATAN
Hakikat praktik keperawatan adalah Senatiasa mengabdi kepada kemanusiaan / berbentuk pelayanan humanistik mendahulukan kepentingan kesehatan klien askep merupakan inti praktik keperawatan hubungan profesional perawat – klien mengacu pada sistem interaksi secara positif atau hubungan terapiutik, karakteristik hubungan profedional :
1.      Berorientasi pada kebutuhan klien,
2.      Diarahkan pada pencapaian tujuan,
3.      Bertanggung jawab dalam menyelesaikan masalah klien,
4.      Memahami kondisi klien degan berbagai keterbatasan,
5.      Memberi penilaian berdasarkan norma yg disepakati,
6.      Berkewajiban membantu klien agar mampu mandiri,
7.      Berkewajiban membina hubungan saling percaya,
8.      Bekerja sesuai kaida etik, menjaga kerahasiaan,
9.      Berkomunikasi secara efektif.


D.    FOKUS PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL
fokus praktik keperawatan adalah Upaya kesehatan dunia dan nasioanal pada saat ini kesmas merupakan fokus utama dgn target populasi total, tujuan sesuai yg dicanangkan who (1985) :
1.            Pencegahan primer,
2.            Peningkatan kesehatan,
3.      Perawatan diri,
4.      Peningkatan kepercayaan diri.
kozier & erb (1990 ) membagi empat area terkait kesehatan yaitu sebagai berikut :
1.      Peningkatan kesehatan (health promotion)
a.       pendidikan kesehatan,
b.      perundangan / kebijakan yang mendukung,
c.       hubungan interpersonal dgn klien secar langsung area yg melibatkan perawat :
-        Mendorong latihan fisik secara periodik dan pemantauan penyakit,
-        Memimpin pelks. Penkes pada masyarakat,
-        Mendukung undang-undang untuk kesehatan,
-        Meningkatkan kesehatan & kesker.
2.      Pencegahan penyakit
helath education di rumah sakit program meningkatkan gaya hidup sehat, memberi informasi, menyediakan keperwatan, membantu tumbuh kembang bayi dan balita, immunisasi, melakukan pemeriksaan untuk deteksi dini, konseling kesehatan peran perawat :
a.       Bertindak sebagai model peran,
b.      Mengajarkan klien strategi keperawatan untuk meningkatkan kesehatan,
c.       Mempengaruhi klien untuk meningkatkan derajat,
d.      Menunjukan pada klien cara pemecahan masalah,
e.       Mengutkan perilaku peningkatan kesehatan.
3.      Pemeliharaan kesehtan (health maintenance).
4.      Pemulihan kesehatn (healt restoration) dan perawatan pasien menjelang ajal.


E.     LINGKUP KEWENANGAN PERAWAT
Kewenangan keperawatan adalah hak dan otonomi untuk melaksanakan asuhan keperawatan berdasarkan kemampuan tingkat pendidikan dan posisi yang dimiliki. Lingkup kewenangan perawat dalam praktik keperawatan professional pada kondisi sehat dan sakit, sepanjang daur kehidupan ( mulai dari konsepsi sampai meninggal dunia), mencangkup hal- hal berikut :
1.      asuhan keperawatan anak, yaitu asuhan keperawatan yg diberikan pada anak berusia mulai dari 28hari sampai 18th .
2.      Asuhan keperawatan maternitas, yaitu asuhan keperawatan klien wanita pada masa subur dan neonates (bayi baru lahir sampai 28hr sampai keadaan sehat).
3.      Asuhan medical bedah, yaitu asuhan pada klien usia diatas 18 th sampai 60 th dengan gangguan fungsi tubuh baik karena trauma atau kelainan fungsi tubuh,
4.       Asuhan keperawatan jiwa yaitu asuhan keperawatan pada semua usia yang mengalami berbagai masalah kesehatan jiwa.
5.      Asuhan keperawatan keluarga yaitu asuhan keperawatan pada klien keluarga sebagai unit terkecil dalaam masyarakat sebagai akibat pola penuyesuaian keluarga yang tidak sehat sehingga tidak terpenuhinya kebutuhan keluarga.
6.      Asuhan keperawatan komunitan yaitu asuhan keperawatan kepada klien masyarakat pada kelompok di wilayah tertentu pada semua usia sebagai akibat tidak terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat.
7.      Asuhan keperawatan gerontik yaitu asuhan keperawatan pada klien usia 60 th ke atas yang mengalami proses penuaan dan permasalahannya.
Kewenangan Perawat terkait di lingkup di atas mencakup hal-hal berikut :
  1. Melaksanakan pengkajian keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat di sarana kesehatan yang meliputi bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual klien.
  2. Merumuskan diagnosis keperawatan terkait dengan fenomena dan garapan utama yaitu tidak terpenuhinya kebutuhan dasar klien.
  3. Menyusun rencana untuk tindakan keperawatan sederhana dan konpleks pada individu, keluarga, masyarakat di sarana kesehatan.
  4. Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai tingkat kesulitan.
  5. Melaksanakan evaluasi terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan.
  6. Mendokumentasikan hasil keperawatan yg dilaksanakan.
Kompetensi berdasarkan kewenangan melakukan praktik keperawatan dibagi segai berikut :
  1. Kompetensi mandiri yaitu kemampuan perawat professional melakukan praktik keperawatan professional sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki.
  2. Kompetensi delegasi yaitu kemampuan yang didelegasikan dari perawat professional kepada perawat vokasional dan kemampuan yang didelegasikan darri tenaga medis kepada perawat-perawat.
  3. Kompetensi diperluas yaitu kemampuan perawat professional untuk melakukan tindakan tertentu setelah yang bersangkutan mendapatkan pelatihan dan pengalaman khusus.
Segmen keperawatan :
  1. Mempunyai batasan ekternal, sebagai respons terhadap pemenuhan kebutuhan dasar, tuntutan dan potensi klien yang selalu berubah.
2.      Bersentuhan dengan profesi lain yang terlibat dalam pelayanan kesehatan. Persentuhan antar profesi merupakan area kelabu yang perlu dipersempit, namun tidak perlu di pertentangkan karena merupakan hal yang wajar dan tidak bermasalah dalam situasi tempat dilakukan praktik bersama.
3.      Mempunyai inti sebagai dasar untuk melakukan asuhan keperawatan yang merupakan fenomena keperawatan yang dapat dijabarkan sebagai objek materi dan objek formal keperwatan.
-        Objek materi adalah manusia yang tidak dapat berfungsi dengan sempurna dalam kaitan dengan kondisi kesehatan dan proses penyembuhan.
-        Objek formal keperawatan adalah kegiatan dalam membantu individu yang bersifat mendukung terwujudnya kesehatan dan penyembuhan
4.      Mempunyai dimensi yang meliputi uraian tentang falsafah dan etika keperawatan, tanggung jawab, peran, fungsi, dan keterampilan teori, metode, tempat dan waktu menjlankan praktik dan kewenangan perawat.
Asuhan keperawatan yang dilakukan bersifat sebagai berikut :
1.      Independen atau mandiri artinya asuhan keperawatan ( dari enetapan diagnosis keperawatan sampai dengan intervensi dan evaluasi ) dilakukan secara mandiri oleh perawat.
2.      Interdependen-kolaboratif artinya asuhan yang dilakukan dengan berkolaborasi atau bekerja sama dengan profesi lain.

Asuhan keperawatan dilaksanakan berdasarkan kaidah keperawatan sebagai suatu profesi, yaitu sebagai berikut :
  1. Menggunakan pendekatan holistic
  2. Didasaarkan pada ilmu dan kiat keperawatan
  3. Asuhan yang diberikan bersifat “manusiawi”
  4. Pelayanan atau bantuan yang diberikan berdasarkan kebutuhan objektif klien
  5. Asuhan ditujukan untuk mengatasi masalah keperawatan klien
Keyakinan Dasar (basic beliefs) yg Menuntun Praktik Keperawatan :
  1. Pandangan holistik tentang manusia,
  2. Filsafat humanistic,
  3. Hak setiap orang untuk memperoleh asuhan keperawatan yang baik,
  4. Keperwatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan,
  5. Pasien adalah mitra yang aktif dalam asuhan kesehatan.

F.     NILAI-NILAI PROFESIONAL DALAM PRAKTIK  KEPERAWATAN
Nilai-nilai profesional yang terkait dalam praktik keperawatan dibagi menjadi :
  1. Nilai intelektual
Terdiri dari 3 komponen yang terkait, yaitu :
-        Body of knowladge yang melandasi praktik profesional.
-        Pendidikan spesialisasi untuk meneruskan kelompok ilmu pengetahuan.
-        Penggunaan pengetahuan dalam berpikir kritis dan kreatif.
  1. Nilai komitmen moral
Prilaku perawat harus dilandasi oleh aspek moral sebagai berikut :
-        Benificience yang berarti sebagai seseorang profesional perawat harus selalu mengupayakan tiap keputusan yang dibuat berdasarkan keinginan untuk melakukan yang terbaik dan tidak merugikan klien (johnstone,1994).
-        Adil berarti tidak mendiskriminasikan klien berdasarkan agama, ras, sosial budaya, ekonomi, tetapi memperlakukan klien sebagai individu yang memerlukan bantuan dengan keunikan yang dimiliki.
-        Fidelity yang berarti bahwa perilaku caring, selalu berusaha menempati janji, memberikan harapan yang memadai, memiliki komitmen moral serta memperhatikan kebutuhan spiritual klien.
  1. Otonomi, kendali, dan tanggung gugat
-        Otonomi berarti kebebasan dari kewenangan melakukan tindakan secara mandiri.
-        Kendali mempunyai implikasi pengaturan atau pengarahan terhadap sesuatu atau orang.
-        Tanggung gugat berarti bertanggung jawab terhadap tindakan yang telah dilakukan.


G.    BENTUK-BENTUK PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL
Model dan Bentuk Praktik Keperawatan Profesional Metode Tim.
Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2-3 tim / grup yang terdiri dari tenaga profesional, tehnikal dan pembantu dalam satu grup kecil yang saling membantu.
Kelebihan :
-        Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
-        Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.
-        Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi dan memberikan kepuasan pada anggota tim.
Kelemahan :
-        Komunikasi antar anggota tim terutama dalam bentuk konferensi tim, membutuhkan waktu dimana sulit melaksanakannya pada waktu-waktu sibuk.
-        Akuntabilitas pada tim.
v  Konsep metode tim :
a.       Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai tehnik kepemimpinan.
b.      Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin.
c.       Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim.
d.      Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik bila didukung oleh Kepala Ruang.
v  Tanggungjawab anggota tim :
a.       Memberikan asuhan keperawatan pada pasien dibawah tanggungjawabnya.
b.      Kerjasama dengan anggota tim dan antar tim.
c.       Memberi laporan.
v  Tanggung jawab ketua Tim :
a.       Membuat perencanaan.
b.      Membuat penugasan, supervisi, dan evaluasi.
c.       Mengenal/mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat kebutuhan pasien.
d.      Mengembangkan kemampuan anggota.
e.       Menyelenggarakan konferensi.
v  Tanggungjawab Kepala ruang :
a.       Menentukan standar pelaksanaan kerja.
b.      Supervisi dan evaluasi tugas staf.
c.       Memberi pengarahan ketua tim.
v  Uraian tugas Kepala Ruang :
a.       Perencanaan
1.      Menunjukkan ketua tim akan bertugas di ruangan masing-masing.
2.      Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya.
3.      Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien.
4.      Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas dan kebutuhan klien bersama ketua tim, mengatur penugasan/penjadwalan.
5.      Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan.
6.      Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologi, tindakan medis yang dilakukan, program pengobatan, dan mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien.
7.      Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan. Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan diri.
8.      Membantu membimbing terhadap peserta didik keperawatan.
9.      Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan RS.
v  Pengorganisasian
a.       Merumuskan metode penugasan yang digunakan.
b.      Merumuskan tujuan metode penugasan.
c.       Membuat rincian tugas ketua tim dan anggota tim secara jelas.
d.      Membuat rentang kendali kepala ruangan membawahi 2 ketua tim dan ketua tim membawahi 2-3 perawat.
e.       Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan : membuat proses dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari dll.
f.       Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan.
g.      Mengatur dan mengendalikan situasi lahan praktik Mendelegasikan tugas saat kepala ruang tidak berada ditempat kepada ketua tim.
h.      Memberikan wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi pasien.
i.        Mengatur penugasan jadwal pos dan pakarnya.
j.        Identifikasi masalah dan cara penanganan.
v  Pengarahan
a.       Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim.
b.      Memberi pujian kepada anggota yang melaksanakan tugas dengan baik.
c.       Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan sikap.
d.      Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan asuhan keperawatan pasien.
e.       Melibatkan bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya.
f.       Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain.
v  Pengawasan
a.        Melalui komunikas : Mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim maupun pelaksanan mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.
b.      Melalui superfisi : Pengawasan langsung dan tidak langsung.
c.       Evaluasi : Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim serta melakukan Audit keperawatan.
Metode tim merupakan suatu model dan praktik keperawatan profesional dimana seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan kelompok klien melalui upaya kooperatif dan kolaboratif ( Douglas, 1984). Model tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai kontribusi dalam merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab perawat yang tinggi sehingga diharapkan mutu asuhan keperawatan meningkat.
Menurut Kron & Gray (1987) pelaksanaan model tim harus berdasarkan konsep berikut:
a.       Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan tehnik kepemimpinan.
b.      Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin.
c.       Anggota tim menghargai kepemimpinan ketua tim.
d.      Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik bila didukung oleh kepala ruang.

H.    STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN
a.       PENGERTIAN STANDAR
Standar praktik keperawatan adalah suatu pernyataan yang menguraikan suatu kualitas yang diinginkan terhadap pelyanan keperawatan yang diberikan untuk klien ( Gillies, 1989h. 121). Fokus utama standar praktik keperawatan adalah klien. Digunakan untuk mengetahui proses dan hasil pelayanan keperawatan yang diberikan dalam upaya mencapai pelayanan keperawatan. Melalui standar praktik dapat diketahui apakah intervensi atan tindakan keperawatan itu yang telah diberi sesuai dengan yang direncanakan dan apakah klien dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Beberapa tipe standar telah digunakan untuk mengarahakan dan mengontrol praktik keperawatan. Standar dapat berbentuk ‘normatif’ yaitu menguraikan praktik keperawatan yang ideal yang menggambarkan penampilan perawat yang bermutu tinggi, standar juga berbentuk ‘empiris’ yaitu menggambarkan praktik keperawatan berdasarkan hasil observasi pada sebagaian besar sarana pelayanan keperawatan (Gillies 1989,h.125).

b.      TUJUAN STANDAR
Secara umum standar praktek keperawatan ditetapkan untuk meningkatkan asuhan atau pelayanan keperawatan dengan cara memfokuskan kegiatan atau proses pada usaha pelayanan untuk memenuhi kriteria pelayanan yang diharapkan. Penyusunan standar praktek keperawatan berguna bagi perawat, rumah sakit/institusi, klien, profesi keperawatan dan tenaga kesehatan lain.
1. Perawat
Standar praktek keperawatan digunakan sebagi pedoman untuk membimbing perawat dalam penentuan tindakan keperawatan yang akan dilakukan teradap kien dan perlindungan dari kelalaian dalam melakukan tindakan keperawatan dengan membimbing perawat dalam melakukan tindakan keperawatan yang tepat dan benar.

2. Rumah sakit
Dengan menggunakan standar praktek keperawatan akan meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelayanan keperawatan dapat menurun dengan singkat waktu perwatan di rumah sakit.
3. Klien
Dengan perawatan yang tidak lama maka biaya yang ditanggung klien dan keluarga menjadi ringan.

4. Profesi
Sebagai alat perencanaan untuk mencapai target dan sebagai ukuran untuk mengevaluasi penampilan, dimana standar sebagai alat pengontrolnya.

5. Tenaga kesehatan lain
Untuk mengetahui batas kewenangan dengan profesi lain sehingga dapat saling menghormati dan bekerja sama secara baik.

c.       PENERAPAN STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN
Dalam penerapan standar praktek keperawatan dapat digunakan pendekatan secara umum dan khusus. Pendekatan secara umum menurut Jernigan and Young,1983 h.10 adalah sebagai berikut :
1. Standar struktur : berorientasi pada hubungan organisasi keperawatan ( semua level keperawatan ) dengan sarana/institusi rumah sakit. Standar ini terdiri dari : filosofi, tujuan, tata kerja organisasi, fasilitas dan kualifikasi perawat.
2. Standar proses : berorientasi pada perawat, khususnya ; metode, prinsip dan strategi yang digunakan perawat dalam asuhan keperawatan. Standar proses berhubungan dengan semua kegiatan asuhan keperawatan yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.
3. Standar hasil : berorientasi pada perubahan status kesehatan klien, berupa uraian kondisi klien yang dinginkan dan dapat dicapai sebagai hasil tindakan keperawatan.
4. Pendekatan lain (khusus) dalam menyusun standar praktek keperawatan sesuai dengan aspek yang diinginkan antara lain :
-        Aspek Asuhan keperawatan, dapat dipilih topik atau masalah keperawatan klien yang sering ditemukan, misalnya standar asuhan keperawatan klien anteatal, intranatal dan postnatal.
-        Aspek pendidikan dapat dipilih paket penyuluhan/pendidikan kesehatan yang paling dibutuhkan, misalnya penyuluhan tentang perawatan payudara.
-        Aspek kelompok klien, topik dapat dipilih berdasarkan kategori umur, masalah kesehatan tertentu misalnya; kelompok menopouse.
Dalam penerapan standar prktek keperawatan dapt dimodifikasi keduanya dalam pelayanan asuhan keperawatan. Contoh : pelaksanaan standar asuhan keperawatan pada klien postnatal, perawat dapat mengunakan standar proses (metode, prinsip dan strategi dalam melaksanakan asuhan keperawatan).

d.      LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN STANDAR PRKTEK KEPERAWATAN.
Penyusunan standar praktek keperawatan membutuhkan waktu lama karena ada beberapa langkah yang harus ditempuh diantaranya menentukan komite (tim penyusun), menentukan filosofi dan tujuan keperawatan, menghubungkan standar dengan teori keperawatan, menentukan topik dan format standar (Irawaty,1996,h.9).
Ada pendapat lain bahwa penyusunan standar secara otomatis dilakukan oleh tim maka langkah-langkah dalam penyusunan standar sebagai berikut : merumuskan filosofi dan tujuan, menghubungkan standar dan teori yang relevan, menetapkan topik dan format standar (Sahar,J, 1996).
Adapun langkah-langkah penyusunan standar menurut Dewi Irawaty,1996 adalah :
1.      Menetukan komite (tim khusus)
Penyusunan standar praktek keperawatan membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak, untuk itu perlu dibentuk tim penyusun. Tim penyusun terdiri dari orang-orang yang memiliki kemampuan, ketrampilan dan pengetahuan yang luas tentang pelayanan keperawatan.
2.      Menentukan filosofi dan tujuan keperawatan
Filosofi merupakan keyakinan dan nilai dasar yang dianut yang memberikan arti bagi seseorang dan berasal dari proses belajar sepanjang hidup melalui hubungan interpersonal, agama, pendidikan dan lingkungan. Didalam pembuatan standar, serangkaian tujuan keperawatan perlu ditetapkan berdasarkan filosofi yang diyakini oleh profesi.
3.      Menghubungkan standar dan teori keperawatan
Teori yang dipilih amat bermanfaat dalam merencanakan standar, mengarahkan dan menilai praktek keperawatan. Konsep-konsep keperawatan dapat digunakan untuk menilai kembali tentang teori keperawatan yang telah dipilih sebelumnya. Ada beberapa teori yang dapat dipilih dan disepakati oleh kelompok pembuat standar keperawatan misalnya; teori Orem. Inti dari teori Orem adalah adanya kepercayaan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk merawat diri sendiri (Self Care).
Perawat profesional bertanggung jawab dalam membantu klien untuk dapat melakukan perawatan mandiri, dengan melihat kemampuan yang dimiliki klien. Berdasarkan teori tersebut maka dapat digunakan sebagai landasan dalam mengembangkan standar praktek keperawatan.

4.      Menentukan topik dan format standar
Topik-topik yang telah ditentukan disesuaikan pada aspek-aspek penyusunan standar misalnya ; aspek asuhan keperawatan, pendidikan dan kelompok klien atau yang bersifat umum yaitu menggunakan pendekatan meliputi standar struktur, standar proses dan standar hasil.
Format standar tergantung dari cara pendekatan yang dipilih sebelumnya dan topik standar yang telah ditentukan. Apabila standar praktek keperawatan yang digunakan adalah pendekatan standar proses maka format standar yang dipakai adalah format standar ANA 1991 terdiri dari enam tahap yang meliputi ; pengkajian , diagnosa, identifikasi hasil, perencanan, implementasi dan evaluasi.
Karena standar merupakan pendekatan sistematis yang terencana dalam praktek keperawatan maka diharapkan bahwa pelayanan keperawatan yang diberikan pada klien juga termasuk pendekatan diri klien dan keluarganya.

e.       ASPEK HUKUM STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN
Dengan diberlakukannya standar praktek keperawatan, maka institusi memberikan kesempatan pada klien untuk mengontrol asuhan keperawatan yang diberikan perawat pada klien. Apabila klien tidak mendapat pelayanan yang memuaskan atau klien dirugikan karena kelalaian perawat maka klien dan keluarga mempunyai hak untuk bertanya dan menuntut.
Dinegara maju dimana standar ini telah diberlakukan maka kekuatatan hukumnya sangat kuat. Apabila perawat melakukan kelalaian karena tindakan yang menyimpang dari standar maka perawat dianggap melanggar hukum dan harus dituntut pertanggung jawabannya. Oleh karena itu setiap perawat harus betul-betul memahami standar praktek keperawatan agar dapat memberikan pelayanan yang bermutu pada klien. Sebagai contoh, Jensen dan Bobak mengemukakan hukum of Torts yang memuat tentang kegiatan yang dikehendaki dari perawat : mencegah penyakit mata pada bayi baru lahir, mendokumentasikan penyakit akibat hubungan seksual.
Pada pasal 53 ayat 2 dan 4 Undang-undang kesehatan Nomer 23 tahun 1992, dinyatakan bahwa “tenaga kesehatan termasuk perawat dalam melakukan tugasnya berkewajiban mematuhi standar profesi dan menghormati hak klien”. Dari uraian tersebut jelaslahbahwa standar profesi keperawatan mempunyai dasar hukum dan barang siapa yang melanggar akan menerima sangsi atau hukuman.
Dimensi praktek profesional adalah adanya sistem etik. Etik adalah standar untuk menentukan benar atau salah dan untuk pengambilan keputusan tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh dan terhadap manusia. (Wijayarini M.A,1996,h.13) .
CONTOH STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN KLINIS (ANA,1991,h..9 )

Standar I : Pengkajian
Perawat mengidentifikasi dan pengumpulan data tentang status kesehatan klien. Pengkajian ini darus lengkap, sistematis dan berkelanjutan.
Kriteria pengukuran :
1.      Prioritas pengumpulan data ditentukan oleh kondisi atau kebutuhan-kebutuhan klien saat ini.
2.      Data tetap dikumpulkan dengan tehnik-tehnik pengkajian yang sesuai .
3.      Pengumpulan data melibatkan klien, orang-orang terdekat klien dan petugas kesehatan.
4.      Proses pengumpulan data bersifat sistematis dan berkesinambungan.
5.      Data-data yang relevan didokumentasikan dalam bentuk yang mudah didapatkan kembali.

Standar II :Diagnosa
Perawat menganalisa data yang dikaji untuk menentukan diagnosa.
Kriteria pengukuran :
1.      Diagnosa ditetapkan dari data hasil pengkajian.
2.      Diagnosa disahkan dengan klien, orang-orang terdekat klien, tenaga kesehatan bila memungkinkan.
3.      Diagnosa di dokumentasikan dengan cara yang memudahkan perencanaan perawatan.

Standar III : Identifikasi hasil
Perawat mengidentifikasi hasil yang diharapkan secara individual pada klien.
Kriteria pengukuran :
1.      Hasil diambil dari diagnosa.
2.      Hasil-hasil didokumentasikan sebagai tujuan-tujuan yang dapat diukur.
3.      Hasil-hasil dirumuskan satu sama lain sama klien, orang-orang terdekat klien dan petugas kesehatan.
4.      Hasil harus nyata (realistis) sesuai dengan kemampuan/kapasitas klien saat ini dan kemampuan potensial.
5.      Hasil yang diharapkan dapat dicapai dsesuai dengan sumber-sumber yang tersedia bagi klien.
6.      Hasil yang diharapkan meliputi perkiraan waktu pencapaian.
7.      Hasil yang diharapkan memberi arah bagi keanjutan perawatan.

Standar IV : Perencanaan
Perawat menetapkan suatu rencana keperawatan yang menggambarkan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Kriteria pengukuran :
1.      Rencana bersifat individuali sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan dan kondisi klien.
2.      Rencana tersebut dikembangkan bersama klien, orang-orang terdekat klien dan petugas kesehatan.
3.      Rencana tersebut menggambarkan praktek keperawatan sekarang
4.      Rencana tersebut didokumentasikan.
5.      Rencana tersebut harus menunjukkan kelanjutan perawatan.

Standar V : Implementasi
Perawat mengimplementasikan intervensi yang diidentifikasi dari rencana keperawatan.
Kriteria pengukuran :
1.      Intervensi bersifat konsisten dengan rencana perawatan yang dibuat.
2.      Intervensi diimplementasikan dengan cara yang aman dan tepat.
3.      Intervensi didokumentasikan.

Standar VI : Evaluasi
Perawat mengevaluasi kemajuan klien terhadap hasil yang telah dicapai.
Kriteria pengukuran :
1.      Evaluasi bersifat sistematis dan berkesinambungan.
2.      Respon klien terhadap intervensi didokumentasikan.
3.      Keefektifan intervensi dievaluasi dalam kaitannya dengan hasil.
4.      Pengkajian terhadap data yang bersifat kesinambungan digunakan untuk merevisi diagnosa, hasil-hasil dan rencana perawatan untuk selanjutnya,
5.      Revisi diagnosa, hasil dan rencana perawatan didokumentasikan.
6.      Klien, orang-orang terdekat klien dan petugas kesehatan dilibatkan dalam proses evaluasi.



0 Komentar untuk "Makalah Praktik Keperawatan"

Terimakasih atas komentar sobat :D

Back To Top